Manusia Wacana

Beberapa bulan lalu saya menutup personal blog yang saya kelola sejak 2011. Alasannya macam-macam, karena takut calon ‘bos’ saya tahu betapa labilnya saya semasa sekolah sampai karena saya terlalu percaya serial Mr. Robot. Haha.

Beberapa tahun yang lalu saya berhenti menulis buku harian. Tepatnya ketika lulus masa sekolah menngah. Saya masih ingat betul halaman terakhirnya berisi perasaan saya ketika besoknya akan wisuda. Diary-diary saya masih tersimpan rapih dan serunya saya bisa akses kembali momen, pikiran, serta perasaan saya pada waktu tertentu. Sejarah-sejarah kecil yang saya simpan.

I forgot why I stopped writing journals and I start to regret closing my personal blog for good. Lalu saya pikir rasanya sayang kalau saya tidak simpan memori, perasaan, or just a chunk of my head/myself somewhere.

“So how about kickstarting it again?” I thought.


Saya sering kali iri ketika orang-orang, apalagi teman-teman seusia saya, mulai bicara tentang passion mereka. Moreover those who already took it on another level in a very young age. Kenapa saya yang sudah mulai cari tahu passion saya sejak kelas dua SMA, ketika mulai baca tulisan-tulisan dan buku Rene Suhardono, hingga sekarang belum yakin juga apa passion saya. Tambah sedihnya lagi, saya juga tidak punya hal yang saya benar-benar tekuni.

Katanya pencarian passion bisa dimulai dengan mengingat-ngingat peak moments saya. Kapan saya benar-benar semangat ketika mengerjakan sesuatu, apa yang buat saya senang hingga lupa waktu ketika mengerjakannya. Di pencarian saya selama ini, rasanya peak moments dan hal-hal yang saya senangi terlalu random dan scattered. 

Dari dulu, saya suka sekali baca dan koleksi majalah, sampai pernah bercita-cita punya majalah sendiri. Di SMA saya aktif ikut ekskul jurnalistik dan pernah jadi pimred di salah satu periode kepengurusan majalah sekolah dulu. Saya suka ngobrolin apapun, terutama ide-ide baru dan kreatif. Di sisi lain, saya merasa tulisan-tulisan saya kurang oke. Selain majalah, kesukaan saya cukup standar sama dengan remaja-remaja pada umumnya; buku, lagu, film, dan jalan-jalan. Tapi belakangan saya sadar kalau saya lebih senang lagi cerita ke orang tentang hal-hal yang saya sukai tadi apalagi sampai mereka juga ikut suka. Saya senang kalau tiba-tiba ada orang yang chat saya untuk tanya rekomendasi buku atau lagu, apalagi kalau ada orang yang ikutan nonton serial yang lagi saya tonton. Selain itu saya juga suka desain, walaupun skill saya standar. Saya juga punya kesenangan fotografi dan sempat punya koleksi kamera macam-macam. Tapi sekali lagi, tidak pernah saya tekuni benar-benar.

Saya kembali ingat-ingat lagi kapan saya senang ketika mengerjakan sesuatu yang lebih serius dan bukan cuma sekedar senang-senang. Ternyata saya cukup senang mengerjakan sesuatu yang hubungannya sama media, dan lumayan dipercaya sama orang-orang di dalam organisasi untuk mengerjakan tetek bengek yang menyangkut publikasi. Bicara soal media, selain majalah saya pun sempat ikut radio kampus. Saya pernah ingin jadi announcer tapi kemudian ciut karena lihat kemampuan public speaking teman-teman yang lain.

Selain hal-hal yang saya sebutkan diatas tadi, banyak lagi peak moments saya seperti waktu saya volunteering, belajar bahasa, termasuk ketika kuliah. Kadang-kadang orang kaget ketika tau saya kuliah teknik. Mungkin karena saya tidak kelihatan serius, atau “ya potongannya bukan anak engineering aja”. Padahal saya sebenarnya suka dan betah belajar di teknik. Walaupun kadang sebel karena susah, justru mungkin karena susah itu jadi menantang and that’s what keeps me going. Di sisi saya yang lain, saya punya banyak interest dengan belajar dan dunia pendidikan.

Random kan? Susah sekali rasanaya menemukan kata yang tepat untuk setidaknya mendeskripsikan hal-hal yang saya senangi diikuti dengan kemampuan saya yang standar-standar akan semuanya. Sampai suatu hari saya menemukan kata di bio instagram orang. Content Creator. 

Content creating. I think this is the closest word that I can relate to most of my interests.

Dimana saya bisa mulai kembali menyalakan “lentera jiwa” saya alias passion ditengah-tengah kehidupan sebagai mahasiswa?

“ya blogging aja lagi, gampang kan,” kata seorang teman.


Kickstarting a blog is easy, maintaining the blog itself takes more than a will.

Saya sadar betul yang buat saya belum bisa “take my passion to another level” bukan karena kemampuan menulis saya, kemampuan desain saya, atau kemampuan bicara saya. Nobody starts from a hundred. Whats stopping me is always inconsistency. Setelah beberapa bulan lalu bertekad untuk sering menulis di medium, saya baru sadar saya punya banya sekali draft tulisan yang tidak pernah saya selesaikan. Some because I got stuck, but most of it because I thought it’s a trash.

Saya sudah berpikir berkali-kali ketika menulis dan ingin memulai blog ini. Semoga kali ini saya tidak hanya berakhir jadi manusia wacana. Sudah saatnya saya kembali punya hobi untuk ditekuni dan diseriusi. Bismillah.

 

 

Manusia Wacana