Perks of Hanging Out with Older People than Your Peers

Halo November.

Kalau saya bilang waktu rasanya berjalan cepat banget, klise ya. Tapi bener deh, sekarang sudah hampir tiap hari saya pakai coat dan heater di kelas-kelas sudah mulai dinyalakan, padahal rasanya baru kemarin liburan musim panas berakhir berikut perpisahan sama kakak-kakak yang sudah harus balik ke Indonesia for good. Di satu sisi saya pengen banget semester ini cepet selesai karena semester ini banyak banget specialized subject courses yang udah bikin stress di minggu keempat perkuliahan. Di sisi lain, saya nggak mau semester ini cepet selesai karena berarti saya juga harus perpisahan lagi sama orang-orang terdekat saya disini, di Kyoto.

Beberapa bulan lalu, atau tepatnya setahun lalu kali  ya, saya pernah curhat di blog saya yang lama tentang betapa kangennya saya sama temen-temen di Indonesia. Saya ingat betul saya tulis kalau saya menyesal tidak mempertimbangkan faktor teman ketika memutuskan untuk pindah ke Jepang. Apalagi saat itu saya baru selesai liburan dari Indonesia dan baru sekitar 5 bulan pindah. Ada yang bilang cuma home sick, atau kata teman SMA saya Nadia, it takes time to find the right one. Di awal-awal kedatangan saya ke Kyoto, saya merasa insecure karena saya belum menemukan teman yang benar benar bisa nyambung atau ‘click’ sama saya. Apalagi, di lingkungan pelajar Indonesia disini, atau PPI, kebanyakan isinya mahasiswa S2 dan S3 jadi saya insecure kalau mau main bareng. Jadilah saya semi frustasi cari teman seumuran yang bisa click sama saya.

Tapi ternyata Nadia benar, it takes time.

Buat saya, not that it takes time to find my ‘click-peers’ but it takes time to adapt with new circle of friends. Alhasil, saya jadi super deket sama lingkaran pertemanan yang isinya kakak-kakak dari berbagai disiplin ilmu dan angkatan, alias umur (hehe). Di lingkaran pertemanan ini, range umurnya yang menurut saya bikin paling menarik dengan saya termasuk yang paling muda sampai kakak yang bedanya sepuluh tahun dari saya. Menarik karena beda umur kita nggak se berpengaruh ternyata sama konsep pertemanan yang selama ini saya punya. Simpelnya, walaupun beda umur kita sampe 5 atau 10 tahun, kita nggak ada yang namanya jaga image atau nggak enakan satu sama lain. Kayaknya ditambah complex saya sebagai anak pertama, saya pengen banget punya kakak, jadi saya seneng-seneng aja dijadiin yang paling kecil di dalam grup. Awalnya saya juga nggak tiba-tiba terbuka sama mereka, karena pertama, saya takut obrolan kita nggak nyambung karena age gap atau insecure otak saya nggak nyampe sama obrolan kakak-kakak. Turned out it’s not! Justru saya merasa banyak dapet manfaat dari lingkaran pertemanan random ini.

Pertama, kumpul bareng kakak-kakak yang usianya diatas saya, nambah pengetahuan in a lot of ways. Apalagi, orang-orang ini punya background studi macem-macem; dari mulai lingkungan, arsitektur, ekonomi, engineering, kedokteran, hukum, perhutanan, sampai hubungan internasional dan bidang bidang lain. Serunya lagi, mereka kan juga udah ngerasain asam garam kehidupan lebih dari saya, jadi semuanya sudah lebih berpengalaman di dunia profesional apalagi urusan perasaan hehe.

Saya paling suka ketika kita belajar dengan tanpa sadar kita sedang belajar. Contohnya sama mereka ini, saya belajar dari obrolan-obrolan kita (ya walaupun ada juga yang isinya hal-hal kurang penting sih), bukan secara eksplisit dikasih kuliah tujuh menit. Dari berbagai macam background ilmu dan profesi, saya jadi tahu kayak apa pahit manis dunia kerja di Indonesia dari cerita-cerita mereka.  Saya jadi tahu gimana pemerintah juga sebenernya ‘doing something’ dan orang-orang di dalamnya juga ternyata passionate in developing our country.

Kalau yang baunya akademik, contohnya saya suka tanya-tanya pendapat Kak Rika, Kak Nisa, atau Kak Rizky waktu saya punya suatu topik dari kelas debate yang mencakup banyak aspek selain dari sisi teknis. Saya juga dapet asupan textbook dan nggak jarang asupan ilmu dari senpai di jurusan yang sama, Kak Indra. Tapi selain akademik, nggak jarang saya dapet wejangan di ranah hati alias percintaan hahaha.

Di sisi lain saya rasa saya belajar banyak karena saya jadi terbiasa menempatkan diri sebagai orang yang banyak tidak tahu. Jujur ketika diskusi dengan teman seumuran, saya kadang lebih banyak bicara ketimbang mendengarkan, kebanyakan waktu saya suka merasa punya pengetahuan lebih dari yang lain. Ketika gabung bareng kakak-kakak, di awal saya secara otomatis saya sudah dalam ‘mode’ tidak tahu banyak alias haus ilmu, saya jadi bisa resap lebih banyak dan mendengarkan. Saya jadi belajar bagaimana harusnya menempatkan diri, bahkan di depan adik-adik yang lebih muda dari saya, untuk selalu menjadi yang tidak tahu banyak.

Dan dari semua hal diatas, yang paling bikin saya nyaman dan senang adalah karena saya juga didengarkan. Saya sering cerita-cerita saya belajar apa di kelas, atau pendapat saya tentang satu isu, dan tanpa disangka ternyata cerita dan pendapat saya yang belum sekelas research-research mereka juga didengarkan meskipun penjelasan saya masih berantakan.

Inilah yang buat saya ingat bahwa Kedua, they help you in every possible way they can. They help you to be a better person. Soal penjelasan saya mengenai apapun yang masih amburadul, contoh jelasnya saya sering sekali menggunakan kata-kata ambigu seperti “Yaa abis begini…. terus yang itu jadi begini juga…”. Kak Dea atau Kak Rika misalnya, suka maksa saya untuk mengelaborasi maksud saya lagi, sampai jelas. Karena saya patuh-patuh aja, ya saya ikutin. Lama kelamaan saya jadi sadar sebenarnya hal ini jadi melatih saya untuk bisa lebih cepat merekonstruksi pikiran di otak jadi bentuk verbal.

Good friends are the ones who help you find the better version of yourself each day

Yang Ketiga, they tell you when you are wrong. Situasi yang sering saya dapati sebelumnya, dalam sebuah lingkaran pertemanan yang seumuran apalagi didominasi perempuan, sulit sekali untuk jujur bilang kalau yang si A lakukan salah, bahkan ketika mayoritas dalam kelompok tahu itu salah. Banyak pula yang berujung tidak dibicarakan sama sekali, sehingga A tanpa tahu menahu sering diomongin di belakang.

Sewaktu SMP, saya pernah menjadi A; saya dijauhi tiba-tiba tanpa alasan, lalu setelah beberapa lama teman-teman dalam kelompok tersebut membuat forum dengan mengikutsertakan saya dan membacakan kesalahan saya versi mereka dari A hingga Z. Walaupun setelah itu kita semua sepakat untuk kembali berteman seperti sebelumnya, tentu semuanya tidak sama lagi. Ketika forum tersebut berlangsung, saya merasa dihakimi dan tidak punya kesempatan untuk membela diri kenapa saya lakukan kesalahan A, B, C, sampai Z. Di pikiran saya ketika itu, Kenapa mereka tidak bilang atau menegur saat saya melakukan kesalahan A; Kenapa sekarang ketika kesalahan saya sudah terakumulasi seperti bola salju yang berputar dan meledak saat ini seperti bom.

Situasi ini ternyata tidak hanya menimpa saya (yang ketika itu masih labil karena hormon), tapi juga teman lainnya. Saya pernah berada di posisi tahu bahwa si A salah, tapi sulit untuk mengatakan faktanya langsung ke si A, bahkan ketika saya rasa kita semua harusnya sudah cukup dewasa untuk berani bilang ke orangnya. Disini saya rasa pertemanan seperti ini kurang sehat.

Berbeda ketika dengan kakak-kakak ini, mereka langsung bilang dan marahin saya waktu saya salah. Tanpa ragu mereka juga akan bilang “Jangan diulangin lagi mut yang begini” atau “Jangan dibiasain ah mut”, yang buat saya jadi tahu bagaimana saya harus berubah kedepannya. Bukannya jengkel, saya justru bisa tulus meminta maaf dan berterima kasih karena jadi tahu kesalahan saya apa.

***

Semua makhluk hidup pasti dibekali mekanisme untuk beradaptasi di lingkungan baru. Setahun lalu mungkin saya masih belum bisa menemukan caranya; bagaimana saya harusnya menerima dan beradaptasi, bukannya sibuk mencari. Saya malah merasa hasil adaptasi saya justru berujung pada hal yg sering orang-orang sebut sebagai serendipity.

Serendipity; noun

Luck that takes the form of finding valuable or pleasant things that are not looked for.

Believe that He gave you what you need, not what you want.

Advertisements
Perks of Hanging Out with Older People than Your Peers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s