Tahun Baru dan Tumbuh Dewasa

Halo Januari!

Saya awalnya mau coba meluangkan waktu sedikit untuk nulis sesuatu di awal 2017 ini, hal-hal yang (mungkin) basi untuk beberapa orang; kilas balik 2016 dan yang mau dicapai di 2017. Anyway, alhasil tulisannya lagi-lagi nongkrong aja di draft saya. Akihrnya saya justru kembali baca salah satu tulisan saya di tahun lalu yang dapat beberapa feedback mengejutkan dari teman saya. Karena pergantian tahun artinya kita (saya dan kamu yang baca) semakin tua, saya rasa tulisan yang tadinya saya post di akun medium saya ini pas pas aja saya posting lagi disini.

On the side note, di akhir tahun kemarin saya banyak diajarkan untuk lebih sabar karena ada beberapa hal yang hanya bisa diselesaikan sama waktu. Begitu juga dalam mengambil keputusan dan bagaimana saya harus punya prinsip walaupun cuma untuk hal-hal remeh, seperti urusan perasaan misalnya, hehe. Pilihan-pilihan yang kita ambil artinya buat kita satu langkah lebih dewasa, sesimpel apapun kelihatannya.

Selamat membaca!

Pulang

Saya tertegun ketika membaca pesan singkat dari mama saya pagi tadi. Isinya sebenarnya hanya tanggal dan tahun lahir kedua orang tua saya yang dibutuhkan untuk pengisian sebuah dokumen di kampus. Bukan masalah saya lupa hari lahir keduanya, saya hanya memastikan agar tidak keliru dalam pengisian data penting. Namun ternyata setelah dihitung-hitung, umur keduanya cukup mengejutkan saya.

Agustus ini usia saya akan genap dua puluh tahun. Teman-teman yang sudah lebih dulu melewati ‘kepala dua’ pertamanya bercerita bagaimana mereka kebanyakan melewati hari ulang tahunnya dengan penuh renungan dan kegelisahan. Isinya kurang lebih ada dua; sudah melakukan apa saja selama dua puluh tahun hidup, dan apa rencana hidup kedepannya. Hasil renungan dari topik kedua biasanya adalah resolusi, ambisi, dan mimpi-mimpi. Lain halnya dengan topik pertama, kebanyakan berujung rasa sesal — akan hal hal yang dilakukan dan tidak dilakukan — atau rasa malu pada diri sendiri karena, “Rasanya belum melakukan sesuatu yang berguna”.

Ketika kelas dua SMA, saya dan teman-teman seangkatan ditugasi untuk membuat peta hidup hingga puluhan tahun kedepan. Disediakan kotak kotak — seperti dalam permainan ular tangga — dengan angka-angka yang menandakan umur, yang harus diisi dengan hal yang akan kita capai pada umur tersebut di tiap kotaknya entah dengan gambar atau tulisan. Pembuatan peta hidup jadi ajang unjuk kebolehan menggambar dan berkreasi karena peta hidup paling menarik akan dilombakan dan pemenangnya tentu mendapatkan hadiah. Lebih dari itu, pembuatan peta hidup yang berlangsung beberapa minggu ini jadi momen untuk berfikir, bermimpi, dan yang penting; merencanakan. Kita diajak berpikir ketika di kotak umur sekian kita ingin bisa apa, ingin punya apa, atau ingin menjadi apa, maka kita harus tau langkah-langkah kecil sebelum kotak tersebut bisa terisi secara logis. Kotak-kotak yang berisi ambisi dan mimpi tersebut pun tidak melulu soal prestasi. Terdapat juga hal-hal seperti; ‘menikah’, ‘naik haji bareng keluarga’, ‘kelahiran anak pertama’, ‘keliling eropa’, ‘membangun panti asuhan’, sampai hal seperti ‘reuni angkatan’.

Isi dari peta hidup saya sendiri adalah mimpi-mimpi acak yang ingin saya capai serta jenjang akademik yang ingin saya tempuh. Salah satu hal yang paling saya ingat adalah sulitnya merencanakan, atau bahkan memimpikan, hidup saya diatas umur empat puluh (yang padahal masih terhitung usia produktif). Alhasil saya hanya bisa mengisinya dengan hal hal random dan ngasal lain yang cukup bikin malu kalau saya beberkan disini.


Sejak kecil, saya termasuk anak-anak yang jam jam dirumahnya banyak dihabiskan bersama mbak saya alias pembantu rumah tangga di rumah. Ayah dan mama saya merupakan komuter Bekasi-Jakarta sehingga kami hanya bertemu di pagi hari saat sarapan, dan malam hari ketika mereka pulang. Potret tipikal keluarga menengah di pinggiran ibu kota. Dari sana, saya tidak punya banyak waktu bersama kedua orang tua saya, sehingga hanya bicara yang perlu-perlu saja. For me it’s awkward to talk about mundane things with them.

Saya ingat sewaktu tk pernah merengek minta mama saya untuk tidak pergi kerja dan menemani saya di sekolah. Rengekan dan tangisan saya berakhir sia-sia. Sejak itu saya tidak pernah lagi minta ditemani.

Semakin dewasa saya mengerti jam-jam yang dikorbankan oleh orang tua, terutama mama saya, sejatinya untuk kebaikan saya sendiri. Tidak hanya sandang, papan, dan pangan yang lebih dari layak, kebutuhan tersier lainnya, dan yang menurut saya paling penting yaitu pendidikan berkualitas tinggi, semuanya dipenuhi oleh kedua orang tua saya.

Saya juga ingat sewaktu SMP memutuskan sendiri ingin sekolah berasrama dengan salah satu alasan; saya sudah terbiasa tanpa orang tua. Begitupun ketika SMA, hingga sekarang saat saya memutuskan kuliah ribuan mil jauhnya dari rumah. Jadilah dari total sembilan belas tahun hidup saya, sudah separuhnya saya hidup jauh dari orang tua.

Sementara ayah saya akan genap setengah abad tahun ini, mama saya akan berumur empat puluh enam. Keduanya masih bekerja, namun saya diam-diam tau keduanya tengah mempersiapkan masa pensiun mereka. Di akhir pekan ayah jadi sering menengok kebunnya di luar kota, menanam entah itu kentang atau daun bawang. Saya ingat betul betapa ayah saya, yang sedari lahir hingga sekarang telah makan manis pahit kehidupan Jakarta, selalu bercerita betapa ia ingin menghabiskan hari tua di desa. Yang tidak saya ingat adalah hari-hari itu semakin dekat datangnya.

We are so busy growing up, we forget our parents are growing old.

Dari sekian banyak hal yang saya tuliskan di peta hidup saya dulu, tidak ada satu kotak pun yang saya sisakan untuk keduanya. Hingga beberapa bulan lalu pun, saya tidak pernah terfikir sama sekali bagaimana nantinya ayah-mama saya akan menua, sementara saya dan adik-adik saya juga nantinya akan punya keluarga baru. Dengan siapa dan bagaimana nantinya kedua orang tua saya akan menghabiskan hari tua terdengar masih jauh didepan, hingga tadi pagi saya mengkalkulasi kemungkinan-kemungkinan.

Beberapa hari yang lalu seorang teman yang sama-sama tengah merantau di negri orang mengirim pesan singkat. Iseng bertanya pada saya, lebih baik pulang atau tidak di liburan berikutnya. Sementara ia sudah berjanji ke diri sendiri untuk tidak pulang hingga dapat gelar sarjana, orang tuanya sudah menahan kangen katanya, sehingga bimbang. Saya akhirnya dengan sotoynya bilang, kita perlu kasih waktu juga untuk orang tua.

Saya sebagai remaja (yang menuju dewasa) sadar bahwa makin kita bertumbuh dewasa, makin banyak hal-hal yang ingin dicapai. Salah satunya pembuktian. Banyak dari kita yang ingin membuktikan bisa jadi kebanggaan orang tua dengan cara berbeda entah lewat prestasi, kemapanan diri, atau pembuktian-pembuktian lain yang saya yakin sejatinya untuk membuat keduanya bahagia. Di dalam prosesnya, mungkin kita sering lupa bahwa menengok keduanya atau hanya dengan rutin membalas pesannya bisa jadi sumber bahagia mereka dan bisa jadi bentuk berbakti pada keduanya. Mengutip penulis Sarah Dessen,

“Home wasn’t a set house, or a single town on a map. It was wherever the people who loved you were, whenever you were together. Not a place, but a moment, and then another, building on each other like bricks to create a solid shelter that you take with you for your entire life, wherever you may go.”

Mengingatkan saya selagi masih ada kesempatan, cobalah beri waktu untuk orang tua, membangun kenangan-kenangan sehingga nanti tidak bingung kemana harus pulang.

Kyoto, 30 April 2016

 

Advertisements
Tahun Baru dan Tumbuh Dewasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s