“The Physics of Love”
by Kim In-yook

The size of a mass is not proportional to its volume
That little girl as small as a violet
That little girl that flutters like a flower petal
Pulls me with a mass greater than the Earth
In a moment, I
Like Newton’s apple
Mercilessly rolled and fell on her
With a thud, with a thud thud
My heart
From the sky to the ground
Continued to swing dizzyingly like a pendulum
It was first love


November Highlights

Hello, December.

I simply wanted to make this kind of post on my blog  because I also love and actually rely on people’s review. So here’s my pick

on movies and series

Before The Flood.


This documentary about climate change wasn’t as “scientific” as Gore’s 2008 Inconvenient Truth. As much as I remember, the movie sends a message from “climate change is really happening and we bring you the evidence” until “here’s the simplest thing you could do to turn back the table; as simple as voting the right leader”. However, if you’re not that familiar with climate sciences, here’s a piece of an easy-to-digest form.

on music


Warm on a Cold Night. Honne.

I have been liking Honne for a while. They’re a perfect background music while I’m doing tasks and I think the sounds matches November very well, too soon to end something but to early to have a new beginning.

and here, is the part where I put it just because I want to archive some highlighted events happened in November.

on life

On November, my campus always holds November Festivals for 4 days which means no classes at all. I never really excited because I am more excited to hunt autumn’s Momiji and ginkgo photos. But the thing was,

I lost my phone. It was quite a rage. Seriously, I have been dealing with weirdest and silliest things that could happen to a 20 yo girl in Japan; broke her toilet seat, meet a wild boar once she came home alone at dusk. This one is, I could say, the scariest. I actually once lost my wallet at Osaka, which is 45 km far from my home, but I eventually found where was it in less than 5 hours so I didn’t have time to be panic at the first place. Standing ovation for Japanese safety service.

As for my phone, this time, the problem was my phone was totally off so I couldn’t find it with the find-my-iPhone thing. Since I lost it in Gion, busiest tourist district in the city, on Sunday night right when I and some friends grabbed dinner in the area, My friends and I suspected that it was stolen since nobody from bus company said anybody found it after we reported to police, or even after we visited the last bus station of the bus which we rode that day.

Before we finally found it at the lost and found center of a different bus station, I went sort of crazy. I actually cried and laughed and cried again while chewing my Mie Ayam that night. I barely slept that I woke every two hours on the night I lose it. It’s funny that I felt lost when I lose one single device, but it explains how I was (or am) too attached to my phone. I didn’t know where to go since I didn’t have my google maps with me, I left lots of lecture notes photos on my phone (and it was just right in time of midterm exam starts), I can’t even tell what time it was since I never think I need a watch.

That was all! See you in Dec.

November Highlights

Perks of Hanging Out with Older People than Your Peers

Halo November.

Kalau saya bilang waktu rasanya berjalan cepat banget, klise ya. Tapi bener deh, sekarang sudah hampir tiap hari saya pakai coat dan heater di kelas-kelas sudah mulai dinyalakan, padahal rasanya baru kemarin liburan musim panas berakhir berikut perpisahan sama kakak-kakak yang sudah harus balik ke Indonesia for good. Di satu sisi saya pengen banget semester ini cepet selesai karena semester ini banyak banget specialized subject courses yang udah bikin stress di minggu keempat perkuliahan. Di sisi lain, saya nggak mau semester ini cepet selesai karena berarti saya juga harus perpisahan lagi sama orang-orang terdekat saya disini, di Kyoto.

Beberapa bulan lalu, atau tepatnya setahun lalu kali  ya, saya pernah curhat di blog saya yang lama tentang betapa kangennya saya sama temen-temen di Indonesia. Saya ingat betul saya tulis kalau saya menyesal tidak mempertimbangkan faktor teman ketika memutuskan untuk pindah ke Jepang. Apalagi saat itu saya baru selesai liburan dari Indonesia dan baru sekitar 5 bulan pindah. Ada yang bilang cuma home sick, atau kata teman SMA saya Nadia, it takes time to find the right one. Di awal-awal kedatangan saya ke Kyoto, saya merasa insecure karena saya belum menemukan teman yang benar benar bisa nyambung atau ‘click’ sama saya. Apalagi, di lingkungan pelajar Indonesia disini, atau PPI, kebanyakan isinya mahasiswa S2 dan S3 jadi saya insecure kalau mau main bareng. Jadilah saya semi frustasi cari teman seumuran yang bisa click sama saya.

Tapi ternyata Nadia benar, it takes time.

Buat saya, not that it takes time to find my ‘click-peers’ but it takes time to adapt with new circle of friends. Alhasil, saya jadi super deket sama lingkaran pertemanan yang isinya kakak-kakak dari berbagai disiplin ilmu dan angkatan, alias umur (hehe). Di lingkaran pertemanan ini, range umurnya yang menurut saya bikin paling menarik dengan saya termasuk yang paling muda sampai kakak yang bedanya sepuluh tahun dari saya. Menarik karena beda umur kita nggak se berpengaruh ternyata sama konsep pertemanan yang selama ini saya punya. Simpelnya, walaupun beda umur kita sampe 5 atau 10 tahun, kita nggak ada yang namanya jaga image atau nggak enakan satu sama lain. Kayaknya ditambah complex saya sebagai anak pertama, saya pengen banget punya kakak, jadi saya seneng-seneng aja dijadiin yang paling kecil di dalam grup. Awalnya saya juga nggak tiba-tiba terbuka sama mereka, karena pertama, saya takut obrolan kita nggak nyambung karena age gap atau insecure otak saya nggak nyampe sama obrolan kakak-kakak. Turned out it’s not! Justru saya merasa banyak dapet manfaat dari lingkaran pertemanan random ini. Continue reading “Perks of Hanging Out with Older People than Your Peers”

Perks of Hanging Out with Older People than Your Peers

Cafe Hopping Around Omotesando and Minami Aoyama, Tokyo

Hello there.

So this is going to be my very first post and I think it will be good if I reviewed my cafe hopping result in Tokyo last week.

I really like having “some time alone” for myself which differs from a me-time. It’s hard for me to focus doing particular task like studying or doing homework when I have friends around. Not that I don’t like it, it’s just hard concentrating and I will prefer having conversation with them. So time to time, I really like to alienate myself by going to near cafes alone (plus I’m a good eater). I really like doing this thing alone, taking photos, enjoying the solitude, all by myself. Hence it became sort of habit to try new cafes or coffee shops or restaurants (well you name it) and I kind of rely on internet reviews to decide where to go. So here I am, trying to make one.

Luckily, I got called for an interview in Tokyo last Sunday. This wasn’t my first time going to Tokyo, but this was my first time going there alone. Since this interview call was a sudden for me, all of my friends and acquaintances in Tokyo had already planned something for the weekend. I had no idea where to go after the interview ended which was around 11 am and planned to just go straight home. However, I changed my direction since it’s a waste for my free Shinkansen ticket to Tokyo. Instead, I walked around Omotesando area to try yummy famous desserts in the area.

My final plan was to go to Sunny Hills, a pineapple cake and juice shop with unique architecture designed by Kengo Kuma. However, I got off the JR Train near Takeshita-dori (Harajuku) to grab CroquantChou Zaku Zaku that I craved and then walked straight to Omotesando Hills area.

Processed with VSCO with a6 preset

I walked from the left top until the middle right on the map.


Continue reading “Cafe Hopping Around Omotesando and Minami Aoyama, Tokyo”

Cafe Hopping Around Omotesando and Minami Aoyama, Tokyo

Manusia Wacana

Beberapa bulan lalu saya menutup personal blog yang saya kelola sejak 2011. Alasannya macam-macam, karena takut calon ‘bos’ saya tahu betapa labilnya saya semasa sekolah sampai karena saya terlalu percaya serial Mr. Robot. Haha.

Beberapa tahun yang lalu saya berhenti menulis buku harian. Tepatnya ketika lulus masa sekolah menngah. Saya masih ingat betul halaman terakhirnya berisi perasaan saya ketika besoknya akan wisuda. Diary-diary saya masih tersimpan rapih dan serunya saya bisa akses kembali momen, pikiran, serta perasaan saya pada waktu tertentu. Sejarah-sejarah kecil yang saya simpan.

I forgot why I stopped writing journals and I start to regret closing my personal blog for good. Lalu saya pikir rasanya sayang kalau saya tidak simpan memori, perasaan, or just a chunk of my head/myself somewhere.

“So how about kickstarting it again?” I thought.

Saya sering kali iri ketika orang-orang, apalagi teman-teman seusia saya, mulai bicara tentang passion mereka. Moreover those who already took it on another level in a very young age. Kenapa saya yang sudah mulai cari tahu passion saya sejak kelas dua SMA, ketika mulai baca tulisan-tulisan dan buku Rene Suhardono, hingga sekarang belum yakin juga apa passion saya. Tambah sedihnya lagi, saya juga tidak punya hal yang saya benar-benar tekuni.

Katanya pencarian passion bisa dimulai dengan mengingat-ngingat peak moments saya. Kapan saya benar-benar semangat ketika mengerjakan sesuatu, apa yang buat saya senang hingga lupa waktu ketika mengerjakannya. Di pencarian saya selama ini, rasanya peak moments dan hal-hal yang saya senangi terlalu random dan scattered. 

Dari dulu, saya suka sekali baca dan koleksi majalah, sampai pernah bercita-cita punya majalah sendiri. Di SMA saya aktif ikut ekskul jurnalistik dan pernah jadi pimred di salah satu periode kepengurusan majalah sekolah dulu. Saya suka ngobrolin apapun, terutama ide-ide baru dan kreatif. Di sisi lain, saya merasa tulisan-tulisan saya kurang oke. Selain majalah, kesukaan saya cukup standar sama dengan remaja-remaja pada umumnya; buku, lagu, film, dan jalan-jalan. Tapi belakangan saya sadar kalau saya lebih senang lagi cerita ke orang tentang hal-hal yang saya sukai tadi apalagi sampai mereka juga ikut suka. Saya senang kalau tiba-tiba ada orang yang chat saya untuk tanya rekomendasi buku atau lagu, apalagi kalau ada orang yang ikutan nonton serial yang lagi saya tonton. Selain itu saya juga suka desain, walaupun skill saya standar. Saya juga punya kesenangan fotografi dan sempat punya koleksi kamera macam-macam. Tapi sekali lagi, tidak pernah saya tekuni benar-benar.

Saya kembali ingat-ingat lagi kapan saya senang ketika mengerjakan sesuatu yang lebih serius dan bukan cuma sekedar senang-senang. Ternyata saya cukup senang mengerjakan sesuatu yang hubungannya sama media, dan lumayan dipercaya sama orang-orang di dalam organisasi untuk mengerjakan tetek bengek yang menyangkut publikasi. Bicara soal media, selain majalah saya pun sempat ikut radio kampus. Saya pernah ingin jadi announcer tapi kemudian ciut karena lihat kemampuan public speaking teman-teman yang lain.

Selain hal-hal yang saya sebutkan diatas tadi, banyak lagi peak moments saya seperti waktu saya volunteering, belajar bahasa, termasuk ketika kuliah. Kadang-kadang orang kaget ketika tau saya kuliah teknik. Mungkin karena saya tidak kelihatan serius, atau “ya potongannya bukan anak engineering aja”. Padahal saya sebenarnya suka dan betah belajar di teknik. Walaupun kadang sebel karena susah, justru mungkin karena susah itu jadi menantang and that’s what keeps me going. Di sisi saya yang lain, saya punya banyak interest dengan belajar dan dunia pendidikan.

Random kan? Susah sekali rasanaya menemukan kata yang tepat untuk setidaknya mendeskripsikan hal-hal yang saya senangi diikuti dengan kemampuan saya yang standar-standar akan semuanya. Sampai suatu hari saya menemukan kata di bio instagram orang. Content Creator. 

Content creating. I think this is the closest word that I can relate to most of my interests.

Dimana saya bisa mulai kembali menyalakan “lentera jiwa” saya alias passion ditengah-tengah kehidupan sebagai mahasiswa?

“ya blogging aja lagi, gampang kan,” kata seorang teman.

Kickstarting a blog is easy, maintaining the blog itself takes more than a will.

Saya sadar betul yang buat saya belum bisa “take my passion to another level” bukan karena kemampuan menulis saya, kemampuan desain saya, atau kemampuan bicara saya. Nobody starts from a hundred. Whats stopping me is always inconsistency. Setelah beberapa bulan lalu bertekad untuk sering menulis di medium, saya baru sadar saya punya banya sekali draft tulisan yang tidak pernah saya selesaikan. Some because I got stuck, but most of it because I thought it’s a trash.

Saya sudah berpikir berkali-kali ketika menulis dan ingin memulai blog ini. Semoga kali ini saya tidak hanya berakhir jadi manusia wacana. Sudah saatnya saya kembali punya hobi untuk ditekuni dan diseriusi. Bismillah.



Manusia Wacana